WELCOME

Jadikan Hidup Anda Lebih Baik Dan Bermanfaat Bagi Orang Lain

Selasa, 26 Juni 2012

Teori Pertumbuhan Ekonomi

TEORI-TEORI PERTUMBUHAN EKONOMI

Teori pertumbuhan ekonomi mebicarakan faktor-faktor yang menentukan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Faktor-faktor tersebut beraneka ragam sehingga banyak pula teori pertumbuhan ekonomi yang bermunculan. Dalam pembicaraan selanjutnya akan dibahas beberapa teori pertumbuhan ekonomi yang dikemukakan oleh para ahli dan penulis yang berbeda. Toeri pertumbuhan ekonomi dapat dibagi atas teori yang bersifat analitis dan yang bersifat historis. Mazhab analitis menekankan pada teori tentang sebab akibat terjadinya pertumbuhan ekonomi, sedangkan mazhab historis menekankan pada tahapan-tahapan yang dilalui dalam pertumbuhan ekonomi. Pembagian lain dapat juga dilakukan berdasarkan waktu munculnya teori tersebut, misalnya teori klasik dan modern. Dalam pembahasan berikut ini, teori-teori itu kita bicarakan secara campuran.

1.      HISTORIS
Beberapa penulis mengemukakan teori pertumbuhan berdasarkan tahapan yang dicapai oleh suatu masyarakat.
a.      Pertumbuhan ekonomi menurut Karl Bucher
Karl Bucher membagi pertumbuhan ekonomi menurut jarak yang ditempuh oleh alat pemuas kebutuhan, yaitu dari produsen sampai ke konsumen. Masyarakat dilihat sebagai satu kesatuan rumah tangga, baik sebagai rumah tangga produsen maupun rumah tangga sebagai konsumen. Pertumbuhan ekonomi menurut Karl Bucher sebagai berikut :
1.      Rumah tangga tertutup
Rumah tangga tertutup merupakan satu kesatuan keluarga yang terdiri atas beberapa orang dan tidak mempunyai hubungan dengan orang-orang atau rumah tangga lain diluar lingkungannya. Contoh rumah tangga tertutup terdapat pada suku-suku terasing di pedalaman Kalimantan dan Irian Jaya. Menurut Karl Bucher, rumah tangga tertutup ini berlangsung sampai lebih kurang tahun 1000.
2.      Rumah tangga kota
Rumah tangga tertutup semakin lama semakin besar dan mulai menjalin hubungan dengan rumah tangga tertutup lainnya, sehingga rumah tangga ini menjadi lebih terbuka. Pada rumah tangga kota, alat pemuas kebutuhan yang dihasilkan oleh suatu masyarakat (rumah tangga) tidak lagi digunakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Barang-barang yang dihasilkan masing-masing rumah tangga mulai saling dipertukarkan. Hubungan antara satu rumah tangg dengan rumah tangga lainnya menjadi semakin beraneka ragam. Masing-masing rumah tangga itu semakin maju dan melahirkan sebuah tatanan masyarakat baru, yang dalam perkembangan selanjutnya akan membentuk rumah tangga kota.  
3.      Rumah tangga bangsa
Adanya hubungan antara kota dan kota lainnya menyebabkan timbulnya rumah tangga bangsa. Rumah tangga bangsa merupakan satu kesatuan ekonomi yang meliputi suatu negara. Hubungan kota dengan kota diperlancar dengan semakin baiknya sarana dan prasarana perhubungan dan keamanan. Alat-alat pemuas kebutuhan yang dihasilkan semakin beraneka ragam dan dalam jumlah yang semakin banyak, baik jenis maupun jumlahnya ini, maka muncullah perusahaan-perusahaan.
           


4.      Rumah tangga dunia
Kemajuan yang dicapai oleh suatu rumah tangga bangsa berbeda dengan rumah tangga bangsa lainnya, baik dalam teknologi produksi, efisiensi, jenis maupun jumlah barang. Akibatnya, barang-barang yang dihasilkan oleh suatu rumah tangga bangsa mulai mengalir ke rumah tangga bangsa lainnya sehingga daerah-daerah pemasaran yang baru, karena kelebihan produksi, tidak lagi dapat mengkonsumsikan sendiri. Dalam masa inilah dikenal adanya perdagangan internasional.

b.      Pertumbuhan ekonomi menurut Friedrich List
Friedrich List membagi pertumbuhan ekonomi masyarakat berdasarkan teknik produksi. Teknik produksi merupakan peralatan dan tara cara yang digunakan untuk menghasilkan alat pemuas kebutuhan. Tingkat-tingkat pertumbuhan tersebut yakni sebagai berikut :
1.      masa berburu dan mengembara,
2.      masa beternak dan bertani,
3.      masa pertanian dan kerajinan, dan
4.      masa kerajinan/industri dan masa perniagaan

Pada masa berburu dan mengembara, masyarakat menghasilkan alat pemuas kebutuhan dengan mengambil hasil-hasil alam tanpa pengolahan terlebih dahulu. Penduduk tinggal pada tempat-tempat yang berpindah-pindah. Namun, akibat pertambahan penduduk dan kesulitan-kesulitan yang dialami, lama kelamaan penduduk mulai mendiami suatu tempat secara tetap. Alat pemuas kebutuhan tidak lagi diharapkan semata-semata dari hasil-hasil alam tetapi mulai dilakukan pengolahan alam dengan bertani memeliharan ternak dan bercocok tanam. Pengolahan alam dengan cara beternak dan bercocok tanam lambat laun juga berkembang menjadi pengolahan yang lebih luas seperti kerajinan dan industri. Pada masa ini produksi tidak lagi semata-mata untuk memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi mulai untuk kepentingan pasar.   

c.       Pertumbuhan ekonomi menurut Werner Sombart
Werner Sombart mebagi pertumbuhan ekonomi maasyarakat berdasarkan susunan organisasi dan ideologi masyarakat. Pembagian tingkat-tingkat pertumbuhan tersebut yakni sebagai berikut :
1.      Zaman perekonomian tertutup
Pada masa ini pengadaan alat-alat pemuas kebutuhan semata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Pertukaran barang dengan masyaraka tertutup lainnya sama sekali tidak dikenal. Mereka juga tidak mau menerima orang lain diluar kelompoknya.
2.      Zaman kerajinan dan pertukangan
Pertambahan penduduk yang semakin banyak serta kemajuan dalam peradaban masyarakat, menyebabkan timbulnya kebutuhan-kebutuhan yang semakin beraneka ragam, dan kebutuhan ini tidak lagi dapat dipenuhi sendiri. Oleh karena itu mulailah muncul pembagian kerja berdasarkan keahlian masing-masing. Hasil produksi dan keahlian ini mulai saling dipertukarka. Namun hubungan pertukaran ini semata-mata masih untuk saling memenuhi kebutuhan dan bukan untuk mencari keuntungan. Hubungan orang dengan orang lain masih bersifat kekeluargaan, bersifat saling membantu dan melengkapi.
3.      Zaman Kapitalis
Pada zaman ini mulailah muncul perusahaan-perusahaan yang menghimpun berbagai nkeahlian dalam masyarakat. Hubungan individu tidak lagi didasarkan pada kekeluargaan, tetapi berubah menjadi hubungan antara pemilik modal dengan para pekerja yang menjual tenaga dan keahliannya. Produksi tidak lagi untuk memenuhi kebutuhan semata-mata, tetapi berubah menjadi pencarian keuntungan. Oleh karena itu, struktur masyarakat berubah sesuai dengan kepemilikan modal (kapital), misalnya majikan dan buruh. Karena segala aktivitasnya didasarkan pada faktor modal atau kepital, zaman ini kemudian dikenal dengan nama zaman Kapitalis. Pada zaman kapitalis ini juga terjadi tingkatan-tingkatan, yaitu :
a.       Zaman Kapitalis Purba
b.      Zaman Kapitalis Madya
c.       Zaman Kapitalis Raya
d.      Zaman Kapitalis Akhir (zaman Sosialisme)

a.      Zaman Kapitalis Purba (Pra Kapitalis)
Pada zaman ini, aktivitas  hidup manusia sebagian besar ditujukan untuk mencari nafkah. Pola kehidupan manusia berbentuk kelompok-kelompok sehingga keterikatan seorang individu terhadap kelompok amat kuat. Seseorang rela mengorbankan apa saja demi kepentingan kelompok. Sebaliksnya, dengan kelompok lain mereka sangat tertutup. Motivasi untuk mencari keuntungan pada zaman ini belum dikenal. Dengan kata lain, pada zaman kapitalis purba kehidupan masyarakat ditandai dengan ciri-ciri :
1.      kehidupan perekonomian hanya untuk mendapatkan nafkah semata-mata
2.       keterikatan antar individu dalam kelompok sangat kuat, dan
3.      kehidupan perekonomian bersifat statis

b.      Zaman Kapitalis Madya (Kapitalis Menengah)
Manusia, pada zaman Kapitalis Madya, sudah mulai mengenal arti keuntungan, sehingga kelompok-kelompok masyarakat sudah mulai mengejar keuntungan dalam aktivitas hidupnya. Kelompok pencari keuntungan itu disebut Kaum Kapitalis (pemilik modal), sedangkan kelompok yang lain disebut Kaum Pekerja atau Kaum Buruh. Hubungan antar kedua kelompok itu memang terjalin, tetapi tujuannya sudah bukan untuk kepentingan bersama seperti zaman sebelumnya, melainkan untuk mencari keuntungan bagi kaum kapitalis. Oleh karena itu, hubungan mereka pun mau tidak mau mulai merenggang. Dengan kata lain, zaman kapitalis madya yang berlangsung dalam kurun waktu antara abad ke 16-18, ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1.      kegiatan perekonomian mengejar keuntungan
2.      hubungan antar individu mulai longgar,
3.      kehidupan perekonomian bersifat dinamis

c.       Zaman Kapitalis Raya (Kapitalis Tinggi)
Zaman Kapitalis Raya ini berlangsung sekitar abad 18. Pada zaman ini mengejar keuntungan merupakan faktor terpenting dalam setiap kegiatan ekonomi. Karena semua mengejar keuntungan, persaingan pun berkembang ke arah yang tidak wajar, akibatnya kaum kapitalis merajalela dan kaum pekerja tertindas. Dengan kata lain, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.
Singkatnya zaman kapitalis raya ini ditandai dengan ciri-ciri :
1.      timbulnya persaingan tidak wajar
2.      timbulnya monopoli
3.      timbulnya penindasan terhadap para buruh oleh majikan

d.      Zaman Kapitalisme Akhir (Sosialisme)
Akibat buruk yang ditimbulkan pada zaman Kapitalisme Raya menyebabkan timbulnya kebencian masyarakat terhadap para kapitalis (pemilik modal) dan dan bahkan masyarakat berkeinginan untuk melenyapkannya.

Berkat perencanaan yang matang, perubahan yang diinginkan oleh masyarakat itu akhirnya terwujud juga. Zaman kapitalis raya surut dan lahirlah zaman Sosialisme. Pada zaman ini segala aktifitas perekonomian tersentralisasi pada pemerintah. Dengan kata lain, setiap kegiatan perekonomian diatur oleh pemerintah. Zaman ini ditandai oleh ciri-ciri :
1.      keinginan untuk mencapai kesejahteraan bersama
2.      terdesak para kaum kapitalis
3.      dominannya pemerintah dalam kehidupan perekonomian


2.      TEORI PERTUMBUHAN KLASIK DAN NEOKLASIK

a.      Teori pertumbuhan Adam Smith
Teori pertumbuhan ekonomi menurut Adam Smith berkaitan dengan dua unsur pertumbuhan, yaitu pertumbuhan output total dan pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan output dipengaruhi oleh tiga unsur pokok yaitu :
1.      sumber-sumber alam
2.      sumber-sumber tenaga kerja (jumlah penduduk)
3.      jumlah modal

Menurut Adam Smith, sumber-sumber alam jumlahnya terbatas, sehingga pertumbuhan ekonomi dibatasi oleh batas maksimal dari sumber alam tersebut. Untuk tercapainya pertumbuhan output, sumber alam ini harus dimanfaatkan oleh tenaga kerja dan modal yang ada. Namun penduduk merupakan unsur yang pasif dalam proses pertumbuhan. Menurut Adam Smith, penduduk akan bertambah jika kebutuhan tenaga kerja bertambahdan tingkat upah yang diterima oleh tenaga kerja itu lebih dari jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan saja (tingkat upah subsistensi). Oleh karena itu, peranan terbesar dalam pertumbuhan ekonomi yakni modal.

Tenaga kerja harus berspesialisasi dan harus dilakukan. Spesialisasi semakin tinggi jika jumlah modal semakin banyak, dan output pun semakin tinggi pula. Misalnya, dengan adanya mesin-mesin, tenaga kerja dapat dispesialisasikan sesuai dengan kemampuannya untuk menggunakan mesin-mesin tersebut, dan itu berarti akan mempertinggi hasil.Sedangkan modal semakin tinggi jika pasar semakin luas, dan tingkat keuntungan yang diperoleh semakin tinggi. Namun pertumbuhan ini akan macet (stationer) jika sumber-sumber alam yang ada telah digunakan secara maksimal dan yang tersisa hanya mencukupi kebutuhan penduduk saja, sehingga keuntungan tidak lagi ada. Oleh karena itu, modal dan output tidak lagi tumbuh, artinya jumlah penduduk yang lahir sama dengan jumlah penduduk yang meninggal.

Secara garis besar, teori pertumbuhan ekonomi Adam Smith dapat dirumuskan sebagai berikut : pertumbuhan output akan terjadi jika jumlah modal semakin besar dan terjadi spesialisasi dan pembagian kerja. Spesialisasi dipertinggi karena semakin tingginya modal. Modal semakin tinggi jika tingkat keuntungan semakin besar yang dapat dicapai dengan memperluas pasar. Perluasan pasar terjadi jika tingkat upah meningkat dan pertumbuhan penduduk semakin besar. Pada suatu ketika, pertumbuhan ekonomi akan mandeg jika output yang ada hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk saja, sehingga tidak lagi diperoleh keuntungan.

b.      Teori Pertumbuhan Ekonomi David Ricardo
Dalam mempelajari teori pertumbuhan ekonomi Ricardo, ingatlah kembali bekerjanya “The Law of DeminishingReturn”. Teori pertumbuhan ekonomi Ricardo ini secara garis besar tidak berbeda dengan teori pertumbuhan Adam Smith. Perbedannya terletak pada penggunaan alat analis mengenai distribusi pendapatan dalam penjabaran mekanisme pertumbuhan dan penempatan peranan sektor pertanian yang lebih jelas.

Ciri-ciri perekonomian menurut Ricardo sebagai berikut :
1.      tanah terbatas jumlahnya
2.      tenaga kerja berubah (bertambah atau berkurang) sesuai dengan perubahan tingkat upah minimal, atau yang sering disebut tingkat upah alamiah
3.      akumulasi modal terjadi apabila tingkat keuntungan yang diperoleh oleh pemilik modal berada diatas tingkat keuntungan minimal yang diperlukan untuk menarik mereka untuk melakukan penanaman modal
4.      kemajuan teknologi terjadi terus menerus dari waktu ke waktu
5.      sektor pertanian dominan

Karena keterbatasan tanah, pertumbuhan penduduk (tenaga kerja) akan menyebabkan produk marginalnya semakin turun. Akibatny, upah juga menjadi turun. Tenaga kerja akan terus bertambah jika penurunan upah tersebut belum mencapai tingkat upah alamiah. Tingkat upah alamiah adalah tingkat upah yang hanya cukup digunakan untuk memenuhi kebutuhan untuk mempertahankan hidup saja. Jika upah sudah berada di bawah tingkat upah alamiah, maka penduduk tidak akan bertambah lagi, bahkan menurun.

Akumulasi modal dan teknologi, menurut David Ricardo, berguna untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja, artinya bisa memperlambat bekerjanya “The Law of Deminishing Return”, sehingga juga memperlambat penurunan tingkat upah. Dengan demikian, pertumbuhan akan terjadi jika terjadi akumulasi modal secara terus-menerus dan terjadi kemajuan teknologi yang terus menerus pula. Teknologi hanya bisa diperoleh dengan adanya akumulasi modal. Namun pada suatu ketika pertumbuhan ini akan mandeg akibat terbatasnya sumber-sumber alam.

Situasi mandeg (stationer) seperti itu memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1.      tingkat output konstan (berhenti berkembang);
2.      jumlah penduduk konstan;
3.      pendapatan per kapita konstan (akibat jumlah penduduk dan output yang konstan);
4.      tingkat upah berada pada tingkat upah “alamiah”;
5.      tingkat keuntungan berada pada tingkat keuntungan minimal;
6.      akumulasi modal berhenti;
7.      tingkat sewa tanah maksimal

c.       Teori Pertumbuhan Harrod-Domar
Harrod (1939) dan Domar (1947) membahas tentang peranan investasi dalam jangka panjang terhadap pertumbuhan ekonomi. Menurut Harrod-Domar pengeluaran investasi mempunyai pengaruh terhadap permintaan dan juga terhadap penawaran. Investasi dalam jangka panjang akan menambah stok kapital, misalnya pabruk, jalan dan sebagainya. Teori Harrod-Domar ini merupakan perkembangan dari teori Keyness. Keyness berpendapat bahwa investasi mempengaruhi permintaan, tetapi tidak mempengaruhi penawaran.

Menurut Harrod-Domar setiap pertambahan stok modal melalui investasi masyarakat kan meningkatkan kemampuan (potensi) masyarakat untuk menghasilkan output. Kemampuan menghasilkan output disebut output potensial. Output potensial tidak sama dengan output yanbenar-benar diproduksikan. Output yamng diproduksi akan tergantung pada permintaan. Jika permintaan lemah, output yang diproduksi akan lebih rendah daripada output potensial. Jika permintaan kuat, output yang diproduksi akan mendekati atau sama dengan output potensial. Ini berarti seluruh kapasitas produksi akan terpakai.

d.      Teori Solow-Swan
Robert Solow dan Trevor Swan secara sendiri-sendiri mengembangkan model pertumbuhan yang mirip dengan model Harrod-Domar. Tetapi, karena model yang dikembangkan olek kedua orang tersebut sama, mam disebut teori Solow-Swan. Ada empat anggapan yang melandasi model Solow-Swan, yaitu :
1.      tenaga kerja (jumlah penduduk) tumbuh dengan laju tertentu;
2.      ada kecenderungan menabung dari masyarakat;
3.      seluruh tabungan masyarakat diinvestasikan;
4.      adanya fungsi produksi Q = f (K,L) yang berlaku bagi setiap periode, artinya untuk menghasilkan suatu produksi dapat digunakan berbagai kombinasi antara modal (K) dan tenaga kerja (L)

3.      TEORI PERTUMBUHAN MENURUT ALIRAN BARU
Teori pertumbuhan yang akan dibahas disini adalah teori pertumbuhan yang dikemukakan oleh pemenang hadiah Nobel, W. W. Rostow. Menurut Rostow proses pertumbuhan dapat dibedakan atas lima tahap dan setiap negara di dunia ini dapat digolongkan ke dalam salah satu diantaranya. Tahap-tahap pertumbuhan tersebut dikaji atas :
1.      masyarakat tradisional (the traditional society);
2.      prasyarat untuk lepas landas ( the preconditions for take off);
3.      lepas landas (the take off)
4.      tingkat kematangan (maturity);
5.      masa konsumsi tinggi ( the age of  high mass consumption)

Yang dimaksud dengan masyarakat tradisional adalah mayarakat yang dalam kehidupannya masih menggunakan cara-cara yang sangat sederhana (primitif), cara berpikirnya tidak rasional, kebiasaan hidupnya didasarkan pada warisan dari nenek moyang . Oleh karena hal-hal tersebut, tingkat produktivitas pun sangat terbatas. Dalam keadaan seperti itu Rostow mengemukakan bahwa pembangunan ekonomi akan menyebabkan terjadinya perubahan segala aspek kehidupan mereka.

Pada masa transisi :
1.      Masyarakat mulai sadar terhadap pentingnya pembangunan ekonomi
2.      Lebih terbuka terhadap ide-ide baru demi kemajuan hidupnya. Masa itu disebut sebagai masa peralihan atau prasyarat lepas landas.
3.      Peranan ilmu pengetahuan pada masa itu sudah mulai aktif.

Setingkat diatas masa peralihan dinamakan masa lepas landas. Masa ini ditandai oleh adanya :
1.      Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat
2.      Industri dan jasa
3.      Pendayagunaan sumberdaya manusia secara optimal

Biasanya, setelah industri berkembang dengan pesat, suatu negara mulai mapan kehidupan ekonominya, artinya :
1.        Sifat ketergantungan kepada negara lain telah dapat diatasi. Masa itu disebut sebagai masa perekonomian yang matang.
2.        Negara yang telah matang kehidupan perekonomiannya biasanya telah mampu memanfaatkan segala sumberdaya, baik alam maupun manusiasecar maksimal. Masa ini juga ditandai dengan adanya kritik terhadap berbagai hasil industrialiasi dan mulai menonjolkan peranan bidang jasa dalam kehidupan ekonominya.

Tahap akhir menurut pandangan Rostow yakni tahap konsumsi tinggi. Pada tahap ini masyarakat hanya tinggal memikirkan kesehjahteraan saja, berbagai masalah produksi dan distribusi dikesampingkan. Maka ini ditandai dengan adanya :
1.      perluasan pengaruh atau kekuasaan ke negara lain
2.      upaya secara terencana bagi tercapainya kesejahteraan masyarakat dengan mencukupi segala kebutuhan hidupnya.
 sumber : http://ml.scribd.com/doc/21981713/Teori-pertumbuhan-ekonomi

Teori Kebutuhan


KEBUTUHAN DASAR MANUSIA


Kebutuhan dasar manusia merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh manusia dalam mempertahankan keseimbangan fisiologi maupun psikologis.

  1. Faktor – faktor yang mempengaruhi kebutuhan dasar manusia
    1. Penyakit.
      Jika dalam keadaan sakit maka beberapa fungsi organ tubuh memerlukan pemenuhan kebutuhan lebih besar dari biasanya.
    2. Hubungan keluarga.
      Hubungan keluarga yang baik dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan dasar karena adanya saling percaya.
    3. Konsep diri.
      Konsep diri yang positif memberikan makna dan keutuhan bagi seseorang. Konsep diri yang sehat memberikan perasaan yang positif terhadap diri. Orang yang merasa positif tentang dirinya akan mudah berubah, mudah mengenali kebutuhan dan mengembangkan cara hidup yang sehat sehingga lebih mudah memenuhi kebutuhan dasarnya
    4. Tahap perkembangan.
      Setiap tahap perkembangan manusia mempunyai kebutuhan yang berbeda, baik kebutuhan biologis, psikologis, sosial, maupun spiritual.
  2. Kebutuhan dasar manusia menurut Abraham Maslow
    Abraham Maslow dilahirkan di Brooklyn, New York, pada tahun 1908 dan wafat pada tahun 1970 dalam usia 62 tahun. Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistik. Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan).
    Description: Abraham Maslow

    Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Hierarchy of needs (hirarki kebutuhan) dari Maslow menyatakan bahwa manusia memiliki 5 macam kebutuhan yaitu physiological needs (kebutuhan fisiologis), safety and security needs (kebutuhan akan rasa aman), love and belonging needs (kebutuhan akan rasa kasih sayang dan rasa memiliki), esteem needs (kebutuhan akan harga diri), dan self-actualization (kebutuhan akan aktualisasi diri).
    1. Kebutuhan fisiologis (Physiological)
      Jenis kebutuhan ini berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dasar semua manusia seperti, makan, minum, menghirup udara, dan sebagainya. Termasuk juga kebutuhan untuk istirahat, buang air besar atau kecil, menghindari rasa sakit, dan seks. Jika kebutuhan dasar ini tidak terpenuhi, maka tubuh akan menjadi rentan terhadap penyakit, terasa lemah, tidak fit, sehingga proses untuk memenuhi kebutuhan selanjutnya dapat terhambat. Hal ini juga berlaku pada setiap jenis kebutuhan lainnya, yaitu jika terdapat kebutuhan yang tidak terpenuhi, maka akan sulit untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi.
    2. Kebutuhan rasa aman dan perlindungan (Safety and security needs)
      Ketika kebutuhan fisiologis seseorang telah terpenuhi secara layak, kebutuhan akan rasa aman mulai muncul. Keadaan aman, stabilitas, proteksi dan keteraturan akan menjadi kebutuhan yang meningkat. Jika tidak terpenuhi, maka akan timbul rasa cemas dan takut sehingga dapat menghambat pemenuhan kebutuhan lainnya
    3. Kebutuhan akan rasa kasih sayang dan rasa memiliki (love and Belonging needs)
      Ketika seseorang merasa bahwa kedua jenis kebutuhan di atas terpenuhi, maka akan mulai timbul kebutuhan akan rasa kasih sayang dan rasa memiliki. Hal ini dapat terlihat dalam usaha seseorang untuk mencari dan mendapatkan teman, kekasih, anak, atau bahkan keinginan untuk menjadi bagian dari suatu komunitas tertentu seperti tim sepakbola, klub peminatan dan seterusnya. Jika tidak terpenuhi, maka perasaan kesepian akan timbul.
    4. Kebutuhan akan harga diri (esteem needs)
      Kemudian, setelah ketiga kebutuhan di atas terpenuhi, akan timbul kebutuhan akan harga diri. Menurut Maslow, terdapat dua jenis, yaitu lower one dan higher one. Lower one berkaitan dengan kebutuhan seperti status, atensi, dan reputasi. Sedangkan higher one berkaitan dengan kebutuhan akan kepercayaan diri, kompetensi, prestasi, kemandirian, dan kebebasan. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka dapat timbul perasaan rendah diri dan inferior.
    5. Kebutuhan aktualisasi diri (Self Actualization)
      Kebutuhan terakhir menurut hirarki kebutuhan Maslow adalah kebutuhan akan aktualisasi diri. Jenis kebutuhan ini berkaitan erat dengan keinginan untuk mewujudkan dan mengembangkan potensi diri. Menurut Abraham Maslow, kepribadian bisa mencapai peringkat teratas ketika kebutuhan-kebutuhan primer ini banyak mengalami interaksi satu dengan yang lain, dan dengan aktualisasi diri seseorang akan bisa memanfaatkan faktor potensialnya secara sempurna.

Referensi :


  1. Bobak, K. Jensen, 2005, Perawatan Maternitas. Jakarta. EGC
  2. Elly, Nurrachmah, 2001, Nutrisi dalam keperawatan, CV Sagung Seto, Jakarta.
  3. Depkes RI. 2000. Keperawatan Dasar Ruangan Jakarta.
  4. Engenderhealt. 2000. Infection Prevention, New York.
  5. JHPIEGO, 2003. Panduan Pengajaran Asuhan Kebidanan, Buku 5 Asuhan Bayi Baru Lahir Jakarta. Pusdiknakes.
  6. JNPK_KR.2004. Panduan Pencegahan Infeksi Untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dengan Sumber Daya Terbatas. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
  7. Johnson, Ruth, Taylor. 2005. Buku Ajar Praktek Kebidanan. Jakarta. EGC.
  8. Kozier, Barbara, 2000, Fundamental of Nursing : Concepts, Prosess and Practice : Sixth edition, Menlo Park, Calofornia.
  9. Potter, 2000, Perry Guide to Basic Skill and Prosedur Dasar, Edisi III, Alih bahasa Ester Monica, Penerbit buku kedokteran EGC.
  10. Samba, Suharyati, 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Jakarta. EGC

Senin, 28 Mei 2012

Materi Teori Perdagangan Internasional


TEORI PERDAGANGAN INTERNASIONAL
1. Absolute Advantage dari Adam Smith
Teori Absolute Advantage atau keunggulan mutlak lebih mendasarkan pada besaran/variabel riil bukan moneter sehingga sering dikenal dengan nama teori murni (pure theory) perdagangan internasional. Murni dalam arti bahwa teori ini memusatkan perhatiannya pada variabel riil seperti misalnya nilai suatu barang diukur dengan banyaknya sumber daya yang dipergunakan untuk menghasilkan barang. Makin banyak sumber daya yang digunakan akan makin tinggi nilai barang tersebut. Jadi, suatu negara disebut memiliki keunggulan mutlak dari negara lain jika negara tersebut mampu memproduksi lebih banyak dari negara lain dengan sumber daya yang sama. Perhatikan contoh di bawah ini:
Negara
Hasil produksi / Jenis Barang
Kursi rotan
Kalkulator
Indonesia
40
8
Jepang
20
20
Jumlah
60
28
Catatan:  Produksi dengan jumlah sumber daya yang sama yang digunakan dalam satu bulan.
Sumber: Hasil olahan sendiri
Berdasarkan contoh di atas dapat terlihat bahwa Indonesia lebih unggul memproduksi kursi rotan disbanding dengan Jepang. Hal ini terlihat dari jumlah produksi Indonesia sebesar 40 unit sedangkan Jepang hanya 20 unit. Oleh sebab itu, sumber daya yang ada di Indonesia digunakan seluruhnya untuk memproduksi kursi rotan sehingga jumlah produksi kursi rotan menjadi 80 unit.
Sedangkan negara Jepang lebih unggul dalam memproduksi kalkulator. Hal ini dapat terlihat dari jumlah produksi kalkulator Jepang sebesar 20 unit sedangkan Indonesia hanya 8 unit. Sama halnya dengan sebelummnya, maka Jepang lebih mengutamakan penggunaan seluruh sumber daya untuk menghasilkan kalkulator sehingga menjadi 40 unit seperti pada table berikut: 
Negara
Hasil produksi / Jenis Barang
Kursi rotan
Kalkulator
Indonesia
80
-
Jepang
-
40
Jumlah
80
40
Berdasarkan table di atas dapat dilihat jumlah total produksi meningkat menjadi 80 unit kursi rotan dan 40 unit kalkulator yang sebelumnya hanya 60 unit kursi rotan dan 28 unit kalkulator. Berdasarkan hasil tersebut dapat dirasakan adanya manfaat perdagangan internasional berdasarkan teori keunggulan mutlak adalah penambahan total produksi.
2. Comparative Advantage Dari David Ricardo
Dua negara akan tetap melakukan pertukaran melalui perdagangan internasional walaupun salah satu negara mempunyai semua keunggulan dengan melihat keunggulan relatifnya. Keunggulan relatif adalah perbandingan opportunity cost suatu kegiatan dalam menghasilkan suatu barang dengan mengorbankan barang lain. Perhatikan contoh di bawah ini:
Negara
Hasil produksi / Jenis Barang
Opportunity Cost
Wol
Katun
Indonesia
5
10
1 : 2
Australia
15
12
5 : 4
Jumlah
20
22

Berdarkan teori keunggulan mutlak maka kedua negara tidak perlu melakukan perdagangan atau pertukaran. Namun berdasarkan teori keunggulan komparatif yang melihat pada opportunity cost dari kedua negara. Berdasarkan opputunity cost tersebut maka Indonesia berspesialisasi pada produksi katun sedangkan Australia berspesialisasi pada produksi wol sehingga terjadi perubahan jumlah produksi seperti tabel berikut:
Negara
Hasil produksi / Jenis Barang
Wol
Katun
Indonesia
-
20
Australia
30
-
Jumlah
30
20
Berdasarkan table di atas dapat terlihat terjadi peningkatan produksi pada wol dari 20 unit menjadi 30 unit walaupun terjadi penurunan produksi pada katun dari 22 unit menjadi 20 unit namun secara keseluruhan atau dari dua produk tersebut terjadi peningkatan dari 42 unit menjadi 52 unit. Jadi, berdasarkan teori keunggulan komparatf perdagangan dapat terjadi dengan memperhatikan opportunity cost dari produksi kedua negara yang hasilnya bermanfaat untuk meningkatkan produksi total kedua negara setelah berspesialisasi dan berdagang.

Contoh RPP


RANCANGAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
SMA N 999 JAKARTA TAHUN PELAJARAN 2011/2012

Mata Pelajaran                :  EKONOMI
Kelas/Semester                :  XI IPS 3/1
Materi Pokok                   : Perekonomian Terbuka
Alokasi Waktu                 : 1 x 15 menit
Pertemuan ke                  : 23

Stándar Kompetensi       :   Siswa SMA kelas XI mampu memahami perekonomian terbuka.
Kompetensi Dasar           :  Mampu mengidentifikasi teori – teori  perdagangan internasional dan manfaatnya.
Indikator                          :  Tujuh puluh lima persen siswa kelas XI mampu mengidentifikasi dan menghitung manfaat perdagangan internasional berdasarkan teori perdagangan internasional setelah diterangkan guru.

1. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini siswa mampu mengidentifikasi dan menghitung manfaat perdagangan internasional.

2. Materi Pembelajaran
                  Teori Perdagangan Internasional
3. Pendekatan Pembelajaran
a.       Model Pembelajaran   : active learning, cooperatif learning
b.      Metode Pembelajaran : Ceramah dan tanya jawab

4. Media Pembelajaran
LCD, laptop, power point (slide) , papan tulis, spidol, dan penghapus

5. Sumber Belajar
a.       Buku Ekonomi untuk SMA dan MA Kelas XI. Pengarang: Alam S. Tahun 2007. Jakarta. Penerbit : Esis. Halaman
b.      Buku Ekonomi kelas XI SMA. Pengarang: Mandala M.. Tahun 2008. Jakarta. Penerbit : Erlangga. Halaman 105





6. Langkah-langkah dalam pembelajaran :
Bag.
Kegiatan Pembelajaran
(disertai karakter bangsa yang ditanamkan ke siswa)
Alokasi
Waktu
A.           


Kegiatan awal :
1)      Mengkondisikan Kelas
a)    Mempersilakan ketua kelas untuk memimpin doa (karakter       
     religius)
b)   menyiapkan siswa secara fisik dan psikis (cinta damai)
c)    Menyapa, menanyakan kabar, dan mengabsen pesera didik    
 (ramah dan bersahabat)
d)   Menanyakan/review sedikit mengenai materi yang lalu (disiplin)
e)    Membacakan dan menjelaskan KD, proses, dan tujuan  
 pembelajaran yang akan dicapai
f)     Memotivasi peserta didik bahwa materi yang akan disampaikan 
 penting, relevan dengan keadaan bangsa, dan menarik
 (cinta tanah air)
3 Menit
B.


Kegiatan Inti :
1)      Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
a)      Menjelaskan secara teori perdagangan internasional beserta manfaatnya dengan menggunakan power point, papan tulis, spidol dan sumber bahan ajar.
b)      Melibatkan peserta didik secara aktif, dengan bantuan buku dan data terkait, dalam menemukan contoh serta alasan dan manfaat terjadinya perdagangan internasional dengan tanya jawab (aktif, ingin tahu)

2)      Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
a)      Menanyakan materi kepada siswa dan meminta pandangan siswa (komunikatif)
b)      Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya (demokrasi)



3)         Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
a)      Memberikan penguatan positif terhadap hasil kerja kelompok diskusi (menghargai prestasi, jujur)
b)      Membuat refleksi singkat tentang kesan yang dirasakan serta pengetahuan yang didapat hari ini (bersahabat)
10 Menit
C.


Kegiatan Akhir :
1)          Review
a)       Guru memberi kesempatan kepada salah satu peserta didik untuk  menyimpulkan (mandiri)
b)      Guru membenarkan atau melengkapi kesimpulan
(menghargai prestasi)
2)         Penugasan
Guru memberikan tugas kepada masing-masing kelompok untuk mengituung dan menjawab pertanyaan mengenai teori perdagangan internasional antara dua negara.(kerja keras)
2 Menit

7.   Penilaian
Penilaian tugas rumah (kelompok)
*bentuk instrumen penilaian yang akan digunakan dan metode penskoran terlampir



LEMBAR PENGESAHAN










                 Jakarta,  7 Mei 2012 

Guru Pamong,                                                                                      Guru Mata Pelajaran,





Smart Man, S.Pd                                                                              Handsome, CS.Pd
NIP. 01.04677.9866                                                                          NIM. 8105091571




Mengetahui,
Kepala SMA NEGERI 999  JAKARTA,                                            Dosen Pembimbing,    




Drs.Beautiful, MM                                                                            Dr. Charming.    
NIP. 131880322 .866                                                                         NIP. 10102 09202 1 001